Sabtu, 22 Desember 2012

Rumah Tangga Kristen

Membangun Rumah Tangga Kristen Bahagia
Oleh: Pdt. Micha NL. Tobing, M.A

Pendahuluan

Musuh utama si setan adalah keluarga Kristen. Keluarga Kristen yang tidak menyadari akan hal ini, tidak mengijinkan keluarganya mendapat perlindungan dengan darah Kristus dan mendapat pembinaan melalui gereja setempat. Oleh karena itu acara / kegiatan Marriage Encounter sangat diperlukan untuk diselenggarakan oleh setiap gereja lokal.

Selama seminar keluarga ini kita akan membahas arti dan tujuan pernikahan, alasan dibentuknya suatu Rumah Tangga Kristen , Peran suami / Istri, resep R.T Kristen yang bahagia, empat bahaya yang menghancurkan R.T Kristen, Ekonomi keuangan Rumah Tangga Kristen, Manajemen Konflik, dsb.


I. ARTI DAN TUJUAN PERNIKAHAN KRISTEN

Apakah definisi pernikahan itu ? Setelah banyak merenung dan berdoa, Tuhan memberikan kepada saya suatu definisi meskipun cukup panjang tetapi lengkap untuk mudah dimengerti oleh siapapun.

”PERNIKAHAN KRISTEN ADALAH IKATAN DAN PERSEKUTUAN HIDUP YANG MENYELURUH ( TOTAL ) DARI SEORANG PRIA (SUAMI) DENGAN SEORANG WANITA (ISTRI) YANG TELAH DITEGUHKAN ALLAH DALAM PERNIKAHAN KUDUS; YANG MELIPUTI ROH, JIWA DAN TUBUH; MASA KINI DAN MASA YANG AKAN DATANG ( SAMPAI SALAH SEORANG MENINGGAL DUNIA ), DENGAN TUJUAN UNTUK MEMBENTUK SECARA BERTANGGUNG JAWAB SUATU RUMAH TANGGA KRISTIANI YANG KUDUS, HARMONIS, DAN BAHAGIA SERTA MEMULIAKAN DAN MELAYANI TUHAN.” ( Micha N.L. Tobing).
  1. IKATAN adalah istilah Hukum, artinya Pernikahan harus diikat dan didasarkan atas Hukum Allah dan Hukum Negara (catatan sipil). 
  2. PERSEKUTUAN adalah istilah Kristen/ Alkitab yang mengandung arti kesatuan, kebersamaan, keakraban, hubungan saling….antar Suami Istri yang didasari oleh Kasih Kristus ( Baca I Petrus 3:7-9 + Kol 3:14)
  3. SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA untuk menentang pernikahan Poligami dan Homoseksual / Lesbian ( baca I Tes 4:4 )
  4. DETEGUHKAN OLEH ALLAH dalam pernikahan yang kudus artinya disahkan oleh Allah dalam acara peneguhan dan pemberkatan nikah oleh gereja. Hidup sebagai Suami Istri yang belum diteguhkan oleh Tuhan melalui gereja adalah tidak sah, tidak berkenan dihati Tuhan, suatu bentuk perjinahan / kenajisan dan permusuhan dengan Allah ( Kel 20:14 dan Yak 4:4 ). Kata tidak setia (Baca Yak 4:4 ) dalam bahasa Mandarin, Inggris dan Gerika ditulis dengan arti sebenarnya sebagai penjinah (Bhs Gerika: Moichalis ) dan tindakan/ perbuatan jinah tersebut menurut Yakobus 4:4 adalah tindakan / perbuatan yang memusuhi Allah. Saudara dapat membayangkan, bila seorang begitu berani memusuhi Allah, ia pasti akan merasakan efek negatif. Nasehat kami jangan dahulu/ coba-coba untuk kumpul bersama (kumpul Kebo ), tidur bersama dsb. Tunggulah sampai hari pernikahan yang dilaksanakan oleh gereja.
  5. MELIPUTI ROH, JIWA DAN TUBUH. ROH berbicara mengenai iman kepada Tuhan Artinya kedua mempelai harus satu Iman, satu Tuhan, lebih baik lagi satu gereja. Jangan menikah dengan calon Istri / Suami dari agama lain. JIWA berbicara mengenai kehendak, kemauan yang didasari atas saling mencintai. Jangan menikah karena paksaan dari ortu atau calon teman hidup dsb. TUBUH berbicara mengenai hubungan tubuh/ jasmani/ seksualitas. Pada awal pernikahan, mobilitas seksual cukup tinggi dan cukup sering dilakukan, tetapi setelah 5, 10, 20 tahun kelihatannya mobilitas seksual sudah mulai berkurang, malah ada yang sudah 8 tahun tidak lagi berhubungan seksual, padahal kesetiaan, kebahagiaan dan kenikmatan hubungan pasutri harus juga selalu dibarengi dengan melakukan hubungan intim suami istri ( Seksual ).
  6. SAMPAI SALAH SEORANG MENINGGAL DUNIA, maksudnya adalah agar hidup nikah harus selalu dipupuk dengan Kasih Kristus, agar jangan tejadi perceraian dengan Suami / Istri sebelum salah seorang meninggal dunia ( Baca : Maleakhi 2:16 )
  7. RUMAH TANGGA YANG BERTANGGUNG JAWAB, maksudnya bertanggung jawab atas keperluan jasmani, jiwani/ batin dan rohani. 
  8. MEMULIAKAN DAN MELAYANI PEKERJAAN TUHAN ( Baca: Yosua 24: 15 ). Pasutri yang tidak beribadah ( jarang kegereja) dan tidak terlibat pelayanan rasanya belum serasi dan belum mencapai tujuan pernikahan tersebut.
Saudara kekasih, saya tidak memberatkan saudara dengan uraian arti dan tujuan Pernikahan Kristen yang sesungguhnya, tetapi inilah Firman Allah yang harus anda indahkan. Yesaya 48: 18 ( tandai dalam Alkitab-mu) mengatakan:

” SEKIRANYA ENGKAU MEMPERHATIKAN PERINTAH-PERINTAHKU, MAKA DAMAI SEJAHTERAMU AKAN SEPERTI SUNGAI YANG TIDAK AKAN PERNAH KERING, DAN KEBAHAGIAANMU AKAN TERUS MELIMPAH SEPERTI GELOMBANG-GELOMBANG LAUT YANG TIDAK PERNAH BERHENTI ”.

II. ALASAN PERNIKAHAN KRISTEN, supaya kita :
  1. Diselamatkan dari RASA KESEPIAN yang tak tertahankan ( Kej 2 : 18 ) 
  2. Dapat melatih, mempratekkan dan menerapkan nilai-nilai saling dan kebersamaan ( Fil 2 : 1-5 ) Eps 5 :33, I Pet 3: 8-9 ( konteks ayat 1-7 )
  3. Dapat menghayati kebahagiaan seksualitas dan melalui hal tersebut dapat memberikan dan menerina kenikmatan dan kepuasan bersama ( I Kor 7 : 3-5 )
  4. Dapat belajar bertanggung- jawab dalam memelihara dan membahagiakan istri dan anak ( Ams 18 : 22 ; 31 : 10 – 31 )
  5. Dengan kehendak Allah bisa mendapatkan keturunan ( Regenerasi ) ( Kej 1 : 28 = ” Beranak- cuculah ……… ” )
  6. Dapat belajar bertanggung – jawab untuk membesarkan, memelihara, mendidik, membina anak- anak sehingga bertumbuh secara jasmani, jiwani, dan rohani ( Ul 6: 6 – 9 ; Maz 78 : 5 – 7 )
  7. Dapat menyelamatkan keluarga dari penyakit kelamin yang membahayakan diri mereka dan janin yang akan dilahirkan dan menghindari kelahiran anak diluar pernikahan ( dengan WIL / PIL / Kumpul Kebo ) 
  8. Dapat menjadi satu sel dari suatu kehidupan masyarakat di negara kita 
III. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB SUAMI / ISTRI
A. SANG SUAMI / AYAH :
1. MENGASIHI DENGAN KASIH AGAPE ( Eps 5 : 25 a )
1) Sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat ( Eps 5 : 25 b )
1. Suami harus berkorban dan menyerahkan dirinya untuk istri ( Eps 5 : 25 c )
2. Suami harus mengasihi istri seperti tubuhnya sendiri
 Menerima dia sebagaimana adanya
 Tidak memukul / menyakitinya / berlaku kasar ( Kol 3 : 19 )
 Menyediakan keperluan jasmani dan memeliharanya
3. Rela merendahkan diri kepadanya dan melayani dia ( Eps 5 : 21 )
2) Ingin dan berusaha agar istri ” Cemerlang ” , tanpa cacat, kudus, dan tak bercela ( Eps 5 : 26 – 27 ), supaya dengan demikian bisa :
1. Mencapai sasaran untuk kehidupannya
2. ” Terpenuhi ” dalam peranannya sebagai ibu rumah tangga
3. Bertumbuh dan terampil dalam pelayanan
3) Memprioritaskan hubungannya dengan istri ( Eps 5 : 31 ) daripada dengan ORTU, anak- anak, sahabat dekat, karier dan pelayanan
4) Hidup secara harmonis dan bijaksana dengan istri dan menghormatinya ( I Pet 3 : 7 ) serta menghargai anak – anak.
5) Mengasihi, peduli dan turut membina anak – anak ( Ul 6 : 6 – 9 )
2. SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA YANG BERTANGGUNG- JAWAB KEPADA
KRISTUS ( I Kor 11 : 3 ; I Tim 3 : 4 , 5 )
Sebagai kepala rumah tangga, suami harus bertindak / melakukan tugasnya :
1) Sebagai IMAM dalam keluarga ( PRIEST )
1. Mengucap syukur kepada Tuhan ( Ibr 13 : 15 )
2. Menaikkan doa syafaat untuk istri dan anak-anak ( Ayub 1 : 4,5 )
3. Membuka jalan untuk keselamatan keluarga ( Kel 1 : 3, 22, 23 )
4. Menerapkan IMAN bagi keluarganya ( Mark 9 : 23, 24 )
5. Memimpin ” MEZBAH KELUARGA ( FAMILY ALTAR ) ”.
2) Sebagai NABI dalam keluarga ( PROPHET )
1. Mewakili Tuhan melalui TELADAN KRISTIANI
2. Mewakili Tuhan melalui pengajaran FIRMAN TUHAN
3. Menyelamatkan keluarga melalui nasehat, peringatan, teguran, awasan dan dorongan dari Firman Tuhan.
4. Mendidik istri dan anak-anaknya ( Ul 6 : 6 – 9 )
3) Sebagai RAJA dalam keluarga ( KING )
1. Melindungi keluarga secara jasmani, sosial dan rohani
2. Mencukupi keperluan ( Sandang , Pangan , Papan ) bagi keluarga.
3. Menjalankan disiplin bagi keluarga
4. Bertanggung jawab dalam pembuatan keputusan – keputusan keluarga.
B. SANG ISTRI / IBU, harus :
1. TUNDUK kepada SUAMI ( Efs 5 : 22 – 24 ; Kol 3 : 18 )
Istri harus memandang suami sebagai Kepala Rumah Tangga ( Eps 5 : 23 ) ; sebagai Penyelamat ( Eps 5 : 23, 28, 29 ) ; dan sebagai Tuan ( I Pert 3 : 16 )
2. Mengasihi suami ( Titus 2 : 4 )
3. Menjadi PENOLONG yang sepadan bagi suami ( Kej 2 : 18 )
1) Dalam kebutuhan spiritual ( Kerohanian ) = mendoakan suami
2) Dalam kebutuhan Intelektual ( Penalaran ) = berdiskusi dengan suami
3) Dalam kebutuhan emosional ( Perasaan ) = berbuat apa yang menyenangkan hati suami. dengan cara menciptakan rumah tangga yang serasi dan menggembirakan
4. Menghormati Suami ( Efs 5 : 33 ; Ams 31 : 26 )
5. Terbuka sepenuhnya kepada suami ( Kej 2 : 25 )
6. Menyerahkan tubuhnya kepada suaminya ( I Kor 7 : 3 – 4 )
7. Sebagai Ibu Rumah Tangga :
1) Dapat mengatur diri ; untuk menjadi mahkota suami ( Ams 12 : 14 ), tetap menarik dan saleh ( I Petr 3 : 1 – 6 )
2) Dapat mengatur pekerjaan rumah tangga seperti, mengatur PRT, kebersihan rumah tangga, dsb. ( Ams 31 : 10, 15, 21, 22, 27 )
3) Dapat mengatur sumbangan bagi fakir miskin dan orang tertindas ( Ams 31 : 20 )
4) Penuh perhatian terhadap anak-anak dengan cara : ( 1 ). Menerima dan mengasihi anak, ( 2 ). Menjaga dan merawat anak, ( 3 ). Mendidik anak ( Ams 31 : 26 ), (4 ). Mendoakan anak, ( 5 ). Menjadi teladan Iman, kesalehan dan ibadah dihadapan anak-anak.
IV. RESEP UNTUK PERNIKAHAN YANG MESRA
Agar kehidupan nikah orang Kristen tidak pudar, melainkan bertambah hari menjadi lebih sehat, mesra dan bahagia, kita harus dapat memberikan yang THE BEST ( terbaik ) kepada pasangan kita. The Best dimaksud adalah MEMBERKATI (blessing ), MEMBANGUN (Edifying ), MEMBAGI
(Sharing ) dan MENYENTUH (Touching).
1. MEMBERKATI (Blessing ). (Rom 12: 14, MaT 5:44 )
Prinsip memberkati merupakan prinsip yang Alkitabiah dan orang Kristen diperintahkan untuk mempraktekkannya, demi untuk mengatasi masa-masa sulit dalam pernikahan. Praktek ini akan mengakhiri kata-kata tajam yang merusak.
Cara membuktikannya adalah:
1. Melalui kata-kata anda yang BAIK dan penuh KASIH yang diucapkan kepadanya atau mengenai dirinya, sekalipun pasangan anda kasar, kritis dan menghina.
2. Melalui TINGKAKAH LAKU anda sebagai tanda KASIH
3. Melalui penyampaian SIKAP BERTERIMAKASIH dan sikap MENGHARGAI
4. Melaui DOA anda kepada Allah demi kepentingannya.
Oleh karena itu para suami- istri hendaklah saling memberkati
2. MEMBANGUN ( Edifying )
Maksudnya adalah memberinya SEMANGAT dalam setiap bidang kehidupan dan meningkatkan RASA HARGA DIRINYA. Caranya:
1. Mengejar dan menciptakan suasana DAMAI SEJAHTERA ( Baca : Rom 14:19 )
2. Mengusahakan KESENANGAN SESAMA ( Baca : Rom 15:2 )
3. Memberi NASEHAT ( Baca: 1 Tes 5:11 )
Dalam I Kor 8:1 ( Baca), diringkaskan bahwa ” KASIH ITU MEMBANGUN ” Ingat membangun berarti menegakkan, bukan meruntuhkan ! Membangun harus mulai dari pikiran ( Filipi 4:8), baru tindakan.
3. MEMBAGI ( Sharing )
Sharing atau lebih tepatnya berarti ” BERBAGI ” yang dapat menyentuh semua bidang kehidupan, baik bidang WAKTU, AKTIFITAS, KEPENTINGAN, PERHATIAN, KEHIDUPAN ROHANI, TUJUAN dan SASARAN KELUARGA ANDA. Berbagi menuntut sikap memberikan diri Anda sendiri, mendengarkan pasangan Anda dan saling berbagi pengalaman hidup. Bagikanlah pengalaman berkat, perasaan duka, kesaksian bahkan sesuatu (makanan, dll ) untuk dapat dinikmati bersama.
4. MENYENTUH ( Touching )
Sentuhan yang lembut dapat berarti bahwa kita diperhatikan. Sentuhan dapat menenangkan RASA TAKUT meredakan RASA SAKIT, membawa KENYAMANAN atau memberi KEPUASAN. Bagi pasangan suami –istri, sentuhan harus lebih banyak dilakukan. Bagi yang belum menikah, harus dibatasi dengan sesama jenis. Ketika kita hendak memberikan kata-kata penghiburan, atau secara UMUM, sentuhan yang dapat diterima adalah JABATAN TANGAN dan MENEPUK PUNDAK.
V. EKONOMI KEUANGAN RUMAH TANGGA
Kerukunan keluarga dapat tercipta juga bila keluarga saling terbuka dan sehati dalam mengatur keuangan keluarga. Bila hal tersebut diremehkan, bisa menimbulkan kecurigaan, percekcokkan dan ketidak harmonisan dalam rumah tangga.
Oleh karena itu setiap keluarga harus memperhatikan saran-saran dibawah ini demi untuk menjaga keutuhan, keharmonisan keluarga dan kemantapan kondisi keuangan keluarga, yakni :
1. SEHATI ( Maz 133 : 1 – 3 )
2. TAKUT AKAN ALLAH ( Ul 14 : 22 , 33 ; Mal 3 : 10 )
3. BERLAKULAH SEBAGAI ORANG SEDERHANA, sebelum Tuhan melimpahkan berkat-Nya yang besar kepadamu ( Ams 12 : 9 ; 10 : 16 ; 15 : 17 ).
4. BUATKANLAH ANGGARAN ( BUDGET ) keluarga yang TRANSPARAN ( Luk 14 : 28, 29 ; Ams 19 : 2 ; 28 : 19 )
5. DAPAT MENAHAN DIRI ( Ams 25 : 28 ; 15 : 16, 17 ; 27 : 20 ; 17 : 19 )
6. TENTUKAN SIAPA PEMEGANG KAS KELUARGA. Lebih diutamakan dipegang oleh Istri, bila istri bukan seseorang wanita konsumerisme, melainkan seorang wanita yang jujur dan hemat.
VI. KELUARGA dan MISI ( Yosua 24 : 15 )
Bila kita kembali ke Bab I, tentang ” ARTI dan TUJUAN PERNIKAHAN KRISTEN ”, kita temukan bahwa tujuan Pernikahan Kristen adalah :
untuk membentuk secara ” BERTANGGUNG JAWAB suatu rumah tangga Kristiani yang KUDUS,
HARMONIS dan BAHAGIA serta untuk ” MEMULIAKAN dan MELAYANI TUHAN ”.
1. MISI PELAYANAN adalah PANGGILAN bagi SETIAP KELUARGA.
Ingatlah bahwa Allah adalah ” TUHAN atas SEGALA KELUARGA ” ( Yer 31 : 1 ) dan Yesus Kristus adalah KEPALA tiap laki-laki ( SUAMI ) = I Kor 11 : 3 b . Artinya Allah dikenal oleh dunia melalui PASUTRI / KELUARGA KRISTEN.
Keluarga Kristen harus memancarkan PRIBADI dan KASIH ALLAH melalui KESAKSIAN dan PELAYANAN KELUARGA kepada DUNIA.
Menurut YOSUA 24 : 15 , tujuan Rumah Tangga adalah ” Untuk beribadah kepada Tuhan ”. Dalam terjemahan Alkitab Kabar Baik, diterjemahakan : ”Untuk Mengabdi Hanya kepada Tuhan ’.
Dalam terjemahan The New King James Version diterjemahkan bahwa tujuan Rumah Tangga adalah ” untuk MELAYANI TUHAN ” ( As For Me and My House , We WILL SERVE The Lord “ ).
Kesimpulannya adalah bahwa Allah memanggil setiap keluarga Kristen untuk melayani pekerjaan TUHAN secara maximal, karena Pasturi / Keluarga terdiri lebih dari 1 ( satu ) orang.
2. MISI PELAYANAN INTERNAL ( DALAM ) KELURGA
1) Melayani dengan cara saling menyatu, mengasihi, merendahkan hati dan memberkati dengan sesama anggota keluarga ( I Pet 3 : 8, 9 )
2) Suami / Ayah melayani sebagai IMAM, NABI dan RAJA terhadap anggota keluarga / seisi rumah tangga.
3) Istri / Ibu melayani sebagai penolong ( Kej 2 : 18 ), mengatur pekerjaan rumah tangga, menjaga / merawat yang sakit dan membina anak , pendoa syafaat bagi keluarga dll.
4) Anak – anak menolong ORTU sesuai tugas yang diberikan oleh ORTU
3. MISI PELAYANAN EXTERNAL ( DILUAR ) KELUARGA
Pelayanan tsb dapat dilaksankan didalam Gereja maupun diluar gereja, misalnya :
1) Sebagai Pengurus Gereja / Diaken / Pengurus Komisi / Komsel, Pelayan Ibadah, dsb, sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh gereja.
2) Sebagai Konselor, Penasehat, Pengerja Gereja ( KPR 18 : 24 , 27 )
3) Sebagai anggota TEAM BEZOEK dan Penginjilan ( EE ) = KPR 18 : 18 = menyertai dan pasti terlibat dalam kegiatan penginjilan bersama Paulus.
4) Menyediakan rumahnya untuk tempat ibadah komsel dan rumah tangga. PKS harus terlebih dahulu menjadi contoh ( Baca : I Kor 16 : 19 ).
5) Membayar PESEPULUHAN, Persembahan Ucapan Syukur dan Korban ke Gereja ( Mal 3 : 10 ; Ibr 9 : 6 ; Ams 9 : 10 )
6) Membantu fakir miskin atau keluarga Pra – Sejahtera .
7) Menjadi Pendoa, penyanyi vocal / special, bersaksi, dll.
VII. MANJEMEN KONFLIK RUMAH TANGGA
A. PENYEBAB KEHANCURAN dan PERCERAIAN
1. DATA DARI LAPORAN DEPAG R.I Th. 2008
Nomor urut pertama s/d terakhir menentukan urutan dari tingkat terbanyak / tertinggi sampai tingkat terendah dari penyebab kehancuran dan perceraian dalam rumah tangga.
1) Selingkuh 8). Penganiayan dan KDRT
2) Tidak harmonis 9). Poligami
3) Faktor Ekonomi 10). Cacat biologis
4) Gangguan pihak keluarga 11). Kawin dibawah umur
5) Krisis keluarga 12). Perbedaan politik
6) Cemburu 13). Kawin lagi
7) Kawin paksa
2. PENYEBAB PRINSIPIL KEHANCURAN dan PERCERAIAN
1) KACAUNYA PERAN ANGGOTA KELUARGA
1. SUAMI, tidak melakukan perannya sebagai PRIA SEJATI, Kepala Rumah Tangga, dalam tugasnya sebagai IMAM, NABI, RAJA.
2. ISTRI, tidak melakukan perannya sebagai istri yang bijak dan tunduk kepada suami, sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik, rajin dan penuh perhatian kepada suami dan anak-anak dsb.
3. ANAK-ANAK, tidak melakukan perannya sebagai anak taat, anak saleh, anak Tuhan yang baik.
2) EGOISME
1. SUAMI terlalu egois dalam masalah harta, seksualitas dan kepentingan-kepentingan pribadinya ( hobby, karier, dsb )
2. ISTRI, terlalu egois dalam masalah harta dari warisan ORTU, seksualitas, hak
kepemimpinan rumah tangga, dll.
3) MENGANGKAT BANGKAI LAMA
Maksudnya menyangkut masalah-masalah yang sudah lama diselesaikan atau diatasi
4) GAGAL DALAM BERKOMUNIKASI
Komunikasi adalah kunci ke Pengenalan, Pengetahuan, Pemahaman dan kasih terhadap sesama anggota keluarga. Kurangnya komunikasi akan menimbulkan kesalah – pahaman , konflik dan ketegangan dalam keluarga. Gagal dalam komunikasi berarti gagal dalam menciptakan suasana saling pengertian, saling menghargai, saling menghormati dan saling
mencintai.
5) KURANGNYA KEPERCAYAAN
1. Cemburu menjadi penyebab suami kurang percaya kepada istri
2. Curiga menjadi sebab Istri kurang percaya kepada Suami
3. Suka bohong menjadi penyebab sang anak kurang percaya kepada ORTU
6) KURANGNYA KASIH
1. Antar Suami – Istri
2. Antar ORTU – Anak
7) JARANG ke GEREJA
8) SEBAB UTAMA adalah HUBUNGAN dengan TUHAN TELAH RENGGANG.
3. RAHASIA MEMPERTAHANKAN RUMAH TANGGA BAHAGIA
1) KOMITMEN
Komitmen berarti, JANJI, TEKAD, TEKAD BULAT, NIAT BAJA, KEPUTUSAN YANG KUAT. Komitmen dalam pernikahan haruslah komitmen yang dibuat untuk :
1. TETAP percaya dan setia kepada Kristus
2. TETAP mempertahankan hidup nikah sampai akhir hayat, dengan tidak mengizinkan kamus cerai, istilah cerai keluar dari hati, pikiran dan mulut ketika menghadapi kemelut rumah tangga.
3. TETAP hidup bersama dengan istri yang dinikahinya sampai akhir hayat, kecuali istri atau suami meninggal dunia ( Mat 19 : 6 – 9 )
Masalah rumah tangga harus diselesaikan dengan cara berbicara dengan sikap rendah hati dan dengan penuh kasih terhadap pasangan anda, atau dengan Pendeta / Rohaniawan, Pakar – Pakar RT atau Pakar – Pakar Pernikahan dan teruatama berbicara kepada Tuhan melalui
DOA dan PUASA, agar Allah berkarya untuk mengatasi kemelut R.T.
2) KASIH ( AGAPE )
Inilah KUNCI KEBAHAGIAAN dalam pernikahan. Bila kita sudah merasakan, mengalami, memiliki kasih Allah yang dicurahkan kedalam hati kita melalui Roh Kudus ( Baca : Roma 5 : 5 ), maka kita pasti mampu mengasihi pasangan kita. Kita pasti tidak akan mampu mengasihi pasangan kita dengan kasih yang sejati ( Kasih Allah ), kecuali Allah terlebih dahulu mengasihi kita ( I Yoh 4 : 19 ). Kasih Allah yang berkembang didalam hati kita, akan memampukan kita untuk mencintai pasangan kita dengan cinta yang murni, mengampuni pasangan kita, menerima pasangan kita apa adanya, dlsb.
Kasih Allah yang berada didalam hati kita akan menjadi PEREKAT yang MEMPERSATUKAN DAN MENYEMPURNAKAN hidup nikah pasutri Kristen ( Kol 3 : 14 )
3) HUBUNGAN YANG INTIM DENGAN ALLAH
Maksudnya hubungan pribadi sang suami dan isteri kepada Tuhan memberi dampak terjadinya hubungan intim masing-masing pihak. Hubungan pribadi dengan Tuhan dimaksud adalah suami maupun istri harus benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan atau hidup dekat, rapat dan melekat dengan Tuhan ( Lihat bagan disebelah )
Bila sang suami maupun istri begitu dekat dengan Tuhan, pastilah hubungan antar pribadi sang suami dan istri semakin dekat, rapat, merekat dan nikmat, karena keduanya berada
persis dihadapan Allah / tahta anugerah Allah.
4) SHARING
Sharing adalah hal berbagi rasa dan pengalaman suka dan duka, berbagi nilai-nilai hidup yang akan mempererat hubungan antar pribadi yang meningkatkan sikap kepedulian satu dengan yang lain.
Hal yang disharingkan a.l. tentang kesehatan / sakit penyakit, makanan, pembelian / penjualan, suka-duka dalam bisnis, cara membesarkan dan mendisiplin anak, pendidikan anak disekolah, ibadah dan pelayanan, cara mendapatkan uang / penghasilan dan cara membelanjakannya, perumahan, cara menanggulangi fitnahan / gosip, PHK, cara
menghadapi mertua / ortu, pacaran dan pernikahan anak, masalah dosa, dsb.
5) ASSET BERSAMA
Nikmatilah harta yang diperoleh secara bersama sejak berumah tangga. Meskipun istri tidak bekerja mencari nafkah, tetapi hasil kerja suami adalah menjadi milik bersama, karena istri berperan melalui dukungan moral, spiritual dan doa. Nikmatilah, hartamu bersama dan katakan kepada pasanganmu : ” HARTAKU, HARTAMU ; HARTAMU, HARTAKU ; HUTANGKU, HUTANGMU ; HUTANGMU, HUTANGKU. Tetapi jangan katakan : HARTAKU, HARTAKU ; HARTAMU, HARTAMU atau HUTANGMU, HUTANGMU ; HUTANGKU, HUTANGKU atau HARTAMU, HARTAKU HUTANGKU, HUTANGMU
B. EMPAT KEKUATAN YANG MENGHANCURKAN PERNIKAHAN
1. 4 KEKUATAN YANG MENGHANCURKAN PERNIKAHAN
DR. John M. Gottman dalam penelitiannya menyimpulkan 4 kekuatan yang menghancurkan sebuah pernikahan yakni : Kecaman, Penghinaan, Membela Diri dan Membangun Pembatas
( Norman Wright, 2002 : 83 – 96 )
1) KECAMAN ( Baca:Matius 7:1-5)
Inilah kekuatan pertama yang paling berbahaya ! Pada dasarnya kecaman atau celaan MENYERANG, MENUDUH atau MENCARI KESALAHAN dalam kepribadian dan karakter orang lain. Alasannya kelihatan baik, yakni agar pasangannya menjadi sadar dan lebih baik, tetapi hasilnya adalah kebalikannya. Inilah keyakinan yang berbahaya ( Baca : Amsal 12 : 28 ). Untuk membuat CINTA dalam pernikahan anda tetap hidup, JAUHILAH kecaman dalam
pernikahan anda.
2) PENGHINAAN ( Baca: 11:12; 14:21 )
Penghinaan adalah niat untuk merendahkan, memburukkan menyakiti, memaki, mengejek, menistakan dan melecehkan pasangan hidup kita secara psikis ( kejiwaan ). Penghinaan terjadi ketika KECAMAN telah menyelinap dalam hati kita. Amsal menyatakan bahwa penghinaan dalah DOSA dan TAK BERAKAL BUDI. Penghinaan adalah PEMBUNUH KARAKTER !
BANGUNLAH karakter pasanganmu dengan CINTA AGAPE !
3) MEMBELA DIRI ( Baca: Pengkhotbah 8: 21 )
Penghinaan ditutup dengan SIKAP PEMBELAAN / MEMPERTAHANKAN DIRI. Makin tinggi tingkat pertahanan diri, makin KURANG KEINTIMAN ( EMOSIONAL ) dalam
hubungan PASUTRI. LALU timbul KERETAKAN KETERPISAHAN.
4) MEMBANGUN PEMBATAS
Inilah TAHAP AKHIR yang PALING BURUK. Contoh : Pisah selimut, pisah ranjang, pisah kamar, pisah rumah, pisah meja makan, dll. Cara lain adalah menarik diri / BUNGKEM. Kekuatan ke 4 ini, pada akhirnya akan menyuarakan KEMATIAN bagi suatu pernikahan ! ( Sungguh memalukan, apalagi dihadapan anak-anak ).
2. CARA MENGATASI SERANGAN KEKUATAN YANG MENGHANCURKAN.
Cara yang benar adalah dengan menggunakan cara MUSA ( Bilangan 12 ), yakni (1 ) tidak membalas. (2). Tidak mempertahankan dirinya terhadap kecaman keluarganya.
Untuk mengatasi ke 4 kekuatan diatas, cukuplah kita mengatasi kekuatan pertama saja, karena kekuatan pertamalah yang menjadi sebab munculnya 3 kekuatan yang lain.
Caranya adalah:
1. Terimalah kecaman tersebut dengan kepala dingin dan dengan penuh akalbudi
2. Pelajari hikmat dibalik kecaman pasanganmu
3. Temukan / bahas akar permasalahan yang timbul
C. MANAJEMEN KONFLIK.
Menurut kamus Webster, konflik adalah perselisihan, memanasnya emosi karena tidak terpenuhinya kebutuhan atau dorongan. DR. H. Norman Wright mengatakan : ” Jika suami istri ingin menikmati hubungan yang MEMUASKAN dan BERTUMBUH, perlu dikembangkan OBJEKTIVITAS, KELUWESAN, KERELAAN untuk membiarkan orang lain menjadi dirinya
sendiri dan kemauan yang kuat untuk BERDAMAI ” ( H. NORMAN WRIGHT, 1997: 148 )
10 PRINSIP MANAJEMEN KONFLIK menurut DR. H. NORMAN WRIGHT :
1. Jangan hindari konflik dengan mendiamkannya
2. Jangan mengoleksi ” Perangko Emosi ”
3. Jika mungkin tetapkan aturan main bagi perselisihan
4. Serang masalahnya, bukan saling menyerang ( Filipi 3 : 13 )
5. Jangan ” MELAMPIASKAN PERASAAN ” kepada suami atau istri ( Pengkhotbah 3 : 1, 7 )
6. Tetaplah pada pokok pembicaraan
7. TAWARKAN JALAN KELUAR dengan sikap kritis ( Roma 14 : 13 )
8. Jangan katakan ” KAMU TIDAK PERNAH ” atau ” KAMU SELALU ” ( Efesus 4 : 15 ) ( OGDEN NASH )
9. Jangan gunakan kritik sebagai LELUCON
10. JIKA SALAH, AKUILAH; JIKA BENAR, DIAMLAH. ( Yak 5 : 16; Ams 28 : 13 ; 13 : 18 ; 23 : 12 ; 25 : 12 ; 17 : 9 ; Kol 3 : 13 ; I Pet 4 : 8 )
( H. NORMAN WRIGHT, 1997 : 146 – 167 )
BIBLIOGRAPHY ” MARRIAGE ENCOUNTER ”
Kaunang, Eddy. KONSELING PRA – NIKAH CHARISMATIC WORSHIP SERVICE.
Jakarta : CWS, n. d .
Prince, Derek. SUAMI dan AYAH. Temukan kembali Maksud Sang Pencipta bagi Para Pria.
Jakarta : YPI Imanuel, 2001
Purnomo, Petrus Agung. BIMBINGAN PRA – NIKAH II. Semarang: JKI Injil Kerajaan, 1997
Trisna, Yonathan A . PERNIKAHAN KRISTEN. Suatu Usaha dalam Kristus. Bandung : Penerbit
Kalam Hidup, 1994
Wright, H. Norman. KOMUNIKASI KUNCI PERNIKAHAN BAHAGIA. Penuntun Sederhana
Bagi Suami – Istri Untuk Mengatasi Konflik, Mengontrol Emosi & Memerangi Kecemasan.
Yogyakarta : Penerbit Yayasan Gloria, 1997
Wright, H. Norman. The Marriage Cheekup. Jakarta : Penerbit Imanuel Publishing House, 2002
DISAMPAIKAN OLEH : Pdt. MICHA N.L. TOBING, M.A
Pada SEMINAR KELUARGA “ Marriage Encounter “
GSJA “ KELUARGA ALLAH “, BALIKPAPAN BARU,
KALTIM, 17 – 18 AGUSTUS 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Geither Live